Kakiku

Al-kisah, ada seorang bocah berumur empat tahun belajar ngaji di sebuah surau sebelah rumahnya. Bocah tersebut dengan beberapa temannya mulai membaca a-i-u-ba’. Saat pertengahan membaca ka-ki-ku-ba’ ustadznya memotong, karena teringat salah satu sabda Rasulullah SAW, “Surga itu berada dibawah telapak kaki ibu”. Sang ustadz tersebut memotivasi bocah itu untuk selalu birrul-walidain kapanpun dan dimanapun ia berada.

Pengajian sudah usai, ia bergegas pulang keruhmahnya karena penasaran akan hadits yang dibacakan ustadznya. Saat bertemu sang ibu, bocah itu menyembar kaki ibunya demi menemukan surga yang sedang ia cari.

Mungkin kita pernah mengalami hal serupa, penasaran akan hadits itu. Kenapa harus kaki yang dijadikan lokasi surga, bukankah itu sebuah penghinaan?

Jika kita bertanya kepada ahli medis, pasti mereka akan menjawabnya. Sebab, kaki salah-satu anggota badan yang istimewa, hampir semua urat anggota badan nyambung pada kaki. Maka tak heran jika kita menemukan tukang pijit kaki dapat menyembuhkan serangan jantung.

Tapi alangkah lebih baiknya jika kita menanyakan kepada diri sendiri. Sekarang saatnya kalian menunduk melihat kaki bersihmu yang dilengkapi pengaman—Eh, maksudku, sandal—. Coba kita lepas sandal kesayanganmu itu, serta berjalan nyeker seperti ayam. Betapa gengsinya kaki kamu menyentuh planet kita sendiri. Tapi, coba kita berangan, seorang pemulung sampah yang setiap hari ada di tepi jalan. Kita akan bisa merasakan sulitnya mereka, hanya dengan melihat sandal yang sedang menjunjung kaki mulia kita. Belum dengan pekerjaan yang lain. Pikir sendiri sengsaranya!

Selain itu, filosofi yang terkandung dalam kaki tak terhitung jumlahnya. Contohnya saja, saat kaki kita sedang memilih sandal, kita pasti akan memilih yang pas, tidak kebesaran dan tidak pula kekecilan. Jika tidak begitu, maka pasti kita akan kesulitan berjalan. Begitupula diri kita, jika kita menempatkan diri kita bukan pada semestinya. Maka samahalnya dengan kita menyengsarakan diri.

Cobalah kita belajar pada kaki kita. Kaki kita selalu berada dibawah, akan tetapi kebangkitan seluruh anggota lain terpusat di kaki. Maka tak ayalku memandang kakiku saat ada iklan-iklan sepeda motor ataupun mobil di televisi. Karena agar aku sadar, bahwa alat transportasi utama itu adalah kakiku sendiri.

Oh iya, ceritaku belum selesai. Setelah bocah melihat kaki ibunya, bocah itu terharu dan berjanji akan membahagiakan ibunya. “Inilah tangga surgaku” gumam bocah umur 4 tahun itu. Kenapa demikian, karena di kaki ibunya ada bukti sejarah perjuangan dan pengorbanannya.

[Mir/Mkt]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s