Positif atau Negatif

Di dalam kitab al-Mahmudât wal-Madzmumât, sebuah ensiklopedi devinisi perbuatan positif dan negatif, dikatakan bahwa orang Islam wajib mengetahui hukum perbuatan yang hendak ia kerjakan, baik haram, wajib, sunnah, makruh dan mubah. Karena akhir-akhir ini mayoritas alasanseseorang yang melakukan perbuatan negatif adalah ‘tidak tahu’. Konon, pada era ditulisnya kitab Sullamut-Taufîq banyak seseorang yang melakukan perbuatan haram, bahkan perbuatan kufurpun mereka lakukan. Semua ini disebabkan ‘tidak tahu’. Terbukti,Mushannif-nya mencantumkan data fakta ini.

Hal itu sangat masuk akal. Karena jika sesorang tidak kenal positif dan negatif mana mungkin ia dapat memilahnya dan menghindari perbuatan negatif?

Maka dari itu, tidak heran jika diberbagai ayat di kisahkan bahwa kelak pada hari kiamat semua orang akan kaget saat melihat amalnya. Hal ini hanyadisebabkan ‘tidak tahu’.

Berkenalan dengan perbuatan positif dan negatif sangat diperlukan. Karena hal itu bisa membawa kita selamat dari api neraka. Jauh berbeda, jika kita kenalan sama gadis-gadis di desa, yang sudah pasti akan menjerumuskan kita pada jilatan api neraka.

Tapi entah kenapa mereka malah memilih berkenalan sama gadis dari pada dengan positif dan negatif. Padahal konsekuensinya sudah sangat jelas, mungkin karena mereka ‘tidak tahu’—Lagi-lagi ‘tidak tahu’—Ah, sungguh keterlaluan!

Kita sebagai santri harus menghancurkan sifat ‘tidak tahu’ ini secepat mungkin. Sebelum dosa-dosa abstrak menumpuk dalam diri kita. Kita harus membaca dan terus membaca. Karena dengan membaca kita akan tahu. Dengan pengetahuan kita akan selamat dari api neraka. Sebagai mana dalam kitab IhyaUlumid-din“Kamu menjaga harta, sedangkan ilmu menjagamu”. Sebab barokahnya ilmu tak terhingga.

Menggali hukum sedalam mungkin adalah kebutuhan primer. Mengingat, jalan satu-satunya menghidari perkara negatif. Dengan mengenali pekerjaan positif dan negatif, kita tak hanya selangkah lebih maju. Bahkan beribu-ribu langkah. Karena, orang yang tidak tahu akan tertimpa dosa tanpa ia sadari.

Nah, satu-satunya lokasi penggalian ilmu adalah pesantren salaf. Sebab tidak bisa dikategorikan tahu, orang yang mengetahui tidak sesuai kenyataannya. Bahkan orang itu dikategorikan jahl murakab (bodoh tujuh keliling) sebab tidak tahu pada hukumnya, plus tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu.

Dari sanalah, kita dapat membedakan seorang keluaran pesantren salaf dengan pendidikan formwater_fire_elements-wallpaper-2560x1600_3.jpgal. Antara orang yang memang tahu dengan orang yang pura-pura tahu. Hanyalah pesantren salaf yang dapat merasakan lezatnya kebenaran. Dan bukan pendidikan formal.[Mir/MKT]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s