Sad Ending Nusantara

Indonesia dalam keterpurukan. Itulah yang saya ingatkan pada beberapa teman saya. Tapi entah, mereka tak meresponnya. Bahkan mereka mengatakan Indonesia dalam kemajuan. Saya kira ucapan itu tak berdasar. Mengigat, Indonesia kini dengan dulu terpaut sangat jauh. Sehingga saya menyatakan, Indonesia dalam keterpurukan.

Dulu, bangsa Indonesia terkenal dengan jiwa 45-nya. Sehingga negara lain tak mampu berkutik di hadapan bangsa kita. Bahkan di ‘lensa’ sejarah, tergambar Ir. Suekarno yang sangat disegani Amerika. Bahkan Ir. Suekarno diundang untuk membangkitkan gelora api Amerika.

Kini, bangsa Indonesia terkenal dengan jiwa ‘lumut’, yang selalalu pasrah digimanakan saja. Sehingga indonesia dijadikan bulan-bulanan oleh negara asing. Pernah suatu ketika Lee Kuan Yew, kaki tangan Amerika mengatakan bahwa Indonesia adalah sarang teroris. Bukan hanya itu, Paul Wolfowitz, Deputi Mentri Pertahanan AS melontarkan gojlokan parah terhadap Indonesia.

Semua tudingan mereka tanpa ada bukti sedikitpun. Mereka hanya ‘mermehkan’ kekuatan Indonesia. Karena mereka tahu, Indonesia sekarang bukan Indonesia dulu. Sekarang ia takkan berkutik di hadapan mereka.

Dulu, pemimpin kita adalah manusia berintegritas, yang tak gentar menghadapi masalah apapun. Pemimpin kita menjadi kisah teladan di seantero negeri. Karena kepiawainnya dalam menegakkan NKRI dan mentaati UUD.

Kini, pemimpin kita penakut dan selalu bersikap dingin. Mereka berlagak tidak tahu pada konflik yang menimpa negeri. Mereka cepat mengatasi masalah. Tak ayal mereka membiarkannya. Parahnya lagi, mereka sendirilah yang merusak indonesia-krisis-llag.jpgUUD. Seculil contoh, kasus penistaan yang dilakukan salah satu pemimpin DKI Jakarta. Jika kita saksikan, berapa ratus wakil rakyat yang telah melanggar UUD. Mulai dari keilegalan pemimpinnya hingga pembiaran terhadap pelanggaran. Hal semacam inilah yang tidak bisa kita biarkan.

Dulu, pemimpin kita sadar bahwa dirinya adalah wakil rakyat. Mereka hanya sebatas khadim. Gayanya sangat jauh dengan penampilan seorang raja. Bahkan, Ir. Soekarno tidak hanya hidup senderhana. Bahkan melebihi itu semua. Beliau tercatat sebagai orang yang sangat miskin (baca: Fakir). Jangankan mobil mewah, makanpun beliau sangat sulit. Bahkan membeli rambutan terpaksa berhutang.

Sebagai khadim, mereka mendengarkan suara tuannya (baca: Rakyatnya). Suehartopun, yang menjabat puluhan tahun terpaksa turun disebabkan demo ratusan orang. Beliau bukannya tidak bisa bertahan, tapi beliau sadar bahwa dirinya adalah khadim-nya rakyat.

Kini, pemimpin kita adalah raja. Meskipun mereka tahu negara kita bukan kerajaan, melainkan negara republik. Mereka tetap haus akan kekayaan. Pakaiannyapun harus nomor wahid. Mengingat, mereka sendiri orang nomor wahid dinegaranya.

Sebagai raja,mereka tak mau mendengarkan celoteh rakyatnya. Bahkan mereka menganngapnya sebagai gong-ngongan anjing. Sudah terlewatkan demonstrasi terbesar sepanjang sejarah, tapi bagi pemimpin kita itu hanya celoteh ‘hamba sahaya’. Sampai sekarang, demo terbesar dengan peserta miliaran orang tidak membuahkan hasil.

Dulu, ucapan para ulama adalah ‘sabda’ yang harus diikuti, bahkan dalam urusan kenegaraan sekalipun. Dalam pembuatan pancasila, Ir. Soekarno mendengarkan keritikan ulama. Sehingga terbentuklah pancasila yang Anda kenal.

Kini, ulama—maaf—tak ubahnya pengemis dijalanan. Mereka dianggap orang tak penting. Perkataannya bak angin lewat yang tak bernilai.“Mereka itu siapa?” perkataan salah satu pemimpin kita mengenai ulama. Padahal kita tahu ulama itu adalah pewaris para nabi, matinya satu orang alim adalah musibah terbesar bagi umat, jika kita tidak tahu harus bertanya pada ahludz-dzikri (ulama). Tapi entah, hal itu sudah melayang dari pemikiran mereka.

Segelintir point penting ini sebagai bukti kemerosotan Indonesia. Relakah kemerosotan itu semakin membesar? Tegakah kita membiarkan anak cucu kita hidup di negara yang terpuruk? Silahkan tentukan jawabannya!

[Mir/IC]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s